Indonesia kini tengah agresif membidik perluasan pasar ekspor bagi komoditas unggulannya, mulai dari sektor perkebunan hingga kelautan. Peluang besar terlihat jelas di depan mata, terutama setelah adanya penguatan kerja sama bilateral yang membuka akses langsung bagi produsen lokal ke pasar global tanpa perantara.

Ambisi Menembus Pasar Tirai Bambu

Para pelaku usaha durian di tanah air mulai mencium aroma keuntungan dari pasar China, yang notabene merupakan pasar terbesar di dunia untuk “raja buah” ini. Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia optimis bahwa kerja sama sektor ini akan semakin moncer ke depannya. Optimisme ini bukan tanpa dasar; sejak Indonesia menandatangani protokol ekspor durian beku dengan Administrasi Umum Kepabeanan China pada Mei lalu, delapan perusahaan lokal telah dinyatakan lolos proses verifikasi.

Langkah strategis ini memungkinkan produsen Indonesia untuk mengekspor langsung ke China, memangkas peran negara perantara seperti Thailand dan Malaysia yang selama ini mendominasi rantai pasok. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sepanjang tahun 2024 Indonesia telah mengekspor buah ini dengan nilai mencapai US$1,8 juta ke Thailand dan Hong Kong. Tahun lalu saja, volume ekspor tercatat sebanyak 600 ton, sebuah angka tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Tantangan Logistik dan Persaingan Regional

Kendati potensi pasarnya sangat masif, Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dari para pesaing regional. Eliza Mardian, peneliti dari Center for Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyoroti bahwa meskipun China memiliki permintaan domestik yang sangat besar terhadap durian berkualitas, Indonesia masih tertinggal dibanding Thailand dan Vietnam. Hambatan utamanya terletak pada aspek logistik dan perizinan yang perlu segera dibenahi agar daya saing produk nasional bisa meningkat.

Magnet Baru Investasi Sektor Kelautan

Tak hanya di darat, potensi ekonomi Indonesia juga bersinar di sektor maritim. Industri rumput laut nasional kini menjadi magnet bagi investor asing dan telah ditetapkan pemerintah sebagai prioritas strategis. Dalam peringatan Hari Ikan Nasional pada 20 November lalu, Machmud, Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, mengungkapkan tingginya minat investasi dari Belanda. Rumput laut dinilai seksi karena aplikasinya yang luas, tidak hanya untuk pangan, tetapi juga industri non-pangan seperti sedotan berbasis rumput laut sebagai alternatif pengganti plastik.

Allied Market Research memproyeksikan pasar rumput laut global yang bernilai US$7,5 miliar pada 2024 akan melesat hingga US$18,1 miliar pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 9,5 persen. Momentum ini didukung oleh keunggulan geografis Indonesia di garis khatulistiwa, yang memungkinkan budidaya rumput laut berjalan sepanjang tahun berkat paparan sinar matahari yang konsisten.

Strategi Hilirisasi dan Nilai Tambah

Merespons peluang tersebut, Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kementeriannya telah mengidentifikasi 23 komoditas prioritas yang memiliki potensi nilai tambah, namun dalam jangka pendek, fokus akan diarahkan pada empat hingga lima komoditas utama, termasuk nikel, kelapa, dan rumput laut.

Sejalan dengan visi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong diversifikasi produk olahan rumput laut non-hidrokoloid. Tornanda Syaifullah, pejabat KKP, menekankan pentingnya inovasi produk seperti suplemen nutrisi, pakan, biostimulan, kosmetik, hingga kemasan ramah lingkungan. Menurutnya, langkah hilirisasi ini akan membuka peluang bisnis yang sangat menjanjikan, dan kementerian siap menyusun peta jalan serta rencana aksi nasional pengembangan industri rumput laut terintegrasi untuk periode 2025-2029.