Langit Indonesia dan dunia astronomi global tengah diramaikan oleh dua kabar besar yang menarik perhatian, mulai dari fenomena visual yang memanjakan mata di tata surya kita hingga teori baru yang mengguncang pemahaman tentang jantung galaksi Bima Sakti. Bagi para pengamat langit di tanah air, sebuah pemandangan langka sedang menanti di ufuk timur. Lima planet di tata surya—Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus—akan tampak sejajar secara berurutan dan dapat dinikmati langsung dengan mata telanjang.
Momentum terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah ketika bulan sabit yang kian memudar turut bergabung dalam barisan benda langit tersebut. Jika kita mengarahkan pandangan ke tenggara, bulan akan tampak menyelinap di posisi antara Venus dan Mars. Menurut Profesor Beth Biller, peneliti dari Institut Astronomi Universitas Edinburgh, ini adalah kesempatan istimewa bagi masyarakat untuk melihat “tetangga” kosmik kita dari dekat tanpa bantuan alat canggih.
Waktu Terbaik untuk Pengamatan
Untuk mendapatkan pengalaman menonton terbaik, pengamat disarankan mencari lokasi dengan pandangan yang luas dan tidak terhalang ke arah cakrawala timur dan tenggara. Kelima planet ini sejatinya sudah mulai menampakkan diri di pagi hari, namun tantangan utamanya adalah melihat semuanya sekaligus sebelum cahaya matahari menghilangkan jejak Merkurius.
Dr. Greg Brown, Public Astronomy Officer di Royal Museums Greenwich, menjelaskan bahwa Venus dan Jupiter akan menjadi objek yang paling mudah ditemukan karena cahayanya yang terang. Venus akan muncul di atas cakrawala sekitar pukul 04.00 pagi, sementara Mars dan Jupiter sudah bisa terlihat lebih awal, sekitar pukul 02.45 pagi. Saturnus bahkan sudah naik ke langit sejak pukul 01.30 dini hari. Namun, Merkurius menjadi yang paling sulit dilacak karena baru terbit sekitar pukul 04.30 pagi, saat langit mulai terang oleh fajar, dan posisinya yang cenderung tetap rendah di dekat cakrawala.
Jendela waktu untuk melihat kelima planet ini secara bersamaan sangatlah sempit, yakni setelah Merkurius terbit namun sebelum matahari menyilaukan pandangan. Andi, seorang ahli astronomi, merinci bahwa fenomena ini bisa disaksikan selama kurang lebih 50 menit, bergantung pada waktu fajar di masing-masing wilayah di Indonesia. Periode ini dimulai dari awal fajar astronomis (ketinggian matahari -18 derajat) sekitar pukul 04.30 waktu setempat, hingga fajar bahari (ketinggian matahari -6 derajat) sekitar pukul 05.30.
Puncak keindahan formasi ini terjadi pada tanggal 24 Juni, di mana sekitar 45 menit sebelum matahari terbit, Bulan akan melengkapi barisan planet tersebut. Menariknya, Andi menegaskan bahwa fenomena ini (kecuali Uranus) bisa dinikmati tanpa alat bantu optik. Khusus untuk Uranus, diperlukan teleskop kecil berdiameter 10-25 cm karena kecerlangannya yang redup (+4,7), melampaui batas visibilitas mata telanjang di wilayah perkotaan yang berpolusi cahaya.
Teori Baru: Bukan Lubang Hitam, Melainkan Materi Gelap?
Sementara para penikmat langit sibuk mengamati planet-planet tetangga, ilmuwan astrofisika justru sedang menelaah ulang apa yang sebenarnya bersembunyi di pusat galaksi kita. Selama beberapa dekade, pergerakan bintang-bintang di pusat Bima Sakti dianggap sebagai bukti paling kuat akan adanya lubang hitam supermasif yang dikenal sebagai Sagitarius A*. Namun, sebuah studi terbaru menantang konsensus tersebut.
Dr. Valentina Crespi dari Institut Astrofisika La Plata bersama rekan-rekannya mengajukan hipotesis radikal: objek padat di pusat galaksi tersebut mungkin bukanlah lubang hitam, melainkan sebuah inti yang tersusun dari materi gelap fermionik yang memiliki gravitasi mandiri (self-gravitating fermionic dark matter). Menurut teori konvensional, orbit bintang-bintang kelompok S (S-stars) yang melesat dengan kecepatan ribuan kilometer per detik dikendalikan oleh gravitasi lubang hitam. Namun, tim peneliti ini berpendapat bahwa jenis materi gelap tertentu yang terdiri dari fermion—partikel subatomik ringan—dapat membentuk struktur kosmik unik yang juga mampu menjelaskan fenomena tersebut.
Dalam model ini, inti materi gelap tersebut akan sangat padat dan masif sehingga tarikan gravitasinya mampu meniru efek lubang hitam. Hal ini tidak hanya menjelaskan orbit bintang-bintang S, tetapi juga pergerakan objek misterius yang tertutup debu, yang dikenal sebagai sumber-G (G-sources), yang berada di dekatnya. Inti padat ini dikelilingi oleh halo yang luas dan menyebar, di mana keduanya bekerja sebagai satu kesatuan entitas.
Dukungan Data dari Misi Gaia
Hipotesis ini semakin kuat berkat data terbaru dari misi Gaia DR3 milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Data tersebut memetakan kurva rotasi halo luar Bima Sakti dan menunjukkan adanya perlambatan rotasi galaksi kita, atau yang dikenal sebagai penurunan Keplerian (Keplerian decline). Model materi gelap fermionik mampu menjelaskan penurunan ini dengan akurat ketika dikombinasikan dengan komponen massa piringan dan tonjolan materi biasa.
Dr. Carlos Argüelles, rekan peneliti dari institut yang sama, menekankan bahwa perbedaan struktur menjadi kunci. Halo materi gelap dingin tradisional biasanya menyebar luas, sedangkan model fermionik memprediksi struktur yang lebih ketat dengan ekor halo yang lebih padat. Menurutnya, ini adalah kali pertama sebuah model materi gelap berhasil menjembatani skala yang sangat berbeda, mulai dari orbit bintang di pusat hingga kurva rotasi di bagian luar galaksi.
Lebih jauh lagi, model ini telah lolos uji krusial terkait visualisasi. Studi pada tahun 2024 menunjukkan bahwa ketika piringan akresi menerangi inti materi gelap yang padat ini, ia akan menciptakan bayangan yang sangat mirip dengan citra “bayangan lubang hitam” yang pernah dipotret oleh kolaborasi Event Horizon Telescope (EHT). Dr. Crespi menjelaskan bahwa inti materi gelap tersebut membelokkan cahaya dengan sangat kuat, menciptakan kegelapan di tengah yang dikelilingi cincin terang, persis seperti karakteristik lubang hitam.
Meskipun data saat ini belum bisa secara tegas membedakan antara skenario lubang hitam atau materi gelap fermionik, para astronom optimistis bahwa teknologi masa depan akan memberikan jawaban. Pengamatan yang lebih presisi menggunakan instrumen interferometer GRAVITY pada Very Large Telescope milik ESO di Chile diharapkan mampu mendeteksi tanda unik berupa cincin foton. Jika cincin foton ini absen, maka teori materi gelap fermionik bisa jadi merupakan jawaban sebenarnya atas misteri jantung Bima Sakti.
Fenomena Langka Parade Planet di Langit Indonesia dan Menguak Misteri Baru Pusat Bima Sakti
Evolusi Digital di Android: 5 Alternatif Pengganti Chrome dan Langkah Berani Menata Ulang Aplikasi
Ragam Nada: Nostalgia Tembang Pance Pondaag dan Era Baru Alien Ant Farm
Geliat Ekspor Komoditas RI: Dari Durian Beku ke China hingga Hilirisasi Rumput Laut
Evolusi Teknologi Penyimpanan Data: Dari Konsep Dasar hingga Terobosan SSD 16 TB Terbaru
Ragam Pilihan Menu Hangat: Dari Sop Bening Praktis hingga Sup Krim Labu
Indonesia Puncaki Destinasi Wisata Kepulauan, Jakarta Selatan Tawarkan Petualangan Rasa
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75%, Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
Dua Sorotan Otomotif: Perbandingan Tarif Pengiriman Motor dan Antisipasi Peluncuran Hero Splendor Listrik