Pengakuan Uni Eropa terhadap Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia
Pemerintah Indonesia meraih pencapaian penting dalam perdagangan internasional setelah Uni Eropa secara resmi mengakui keberlanjutan minyak sawit mentah (CPO) Indonesia dalam perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA). Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Uni Eropa telah sepakat untuk tetap menyerap CPO produksi dalam negeri sebagai bagian dari implementasi kesepakatan tersebut.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Djatmiko B. Witjaksono, menegaskan bahwa IEU-CEPA kali ini mencakup protokol khusus terkait CPO—yang belum pernah tercantum dalam perjanjian CEPA sebelumnya. “Protokol ini akan memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat dalam IEU-CEPA,” ujarnya dalam konferensi di Kantor Kadin pada 4 Agustus 2025.
Dalam protokol tersebut, Uni Eropa menyatakan bahwa CPO Indonesia memenuhi standar keberlanjutan, baik untuk konsumsi pangan maupun energi. Namun, Djatmiko mengingatkan bahwa ekspor CPO ke Eropa ke depan tetap harus memenuhi persyaratan ketat, seperti pelacakan rantai pasok dan sertifikasi keberlanjutan.
Meskipun ada kemajuan ini, Indonesia dan Uni Eropa masih terlibat dalam sengketa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) terkait produk biodiesel dan asam lemak. Djatmiko menduga bahwa pengakuan terhadap CPO ini dipengaruhi oleh dinamika politik internal di Eropa.
Saat ini, Indonesia memiliki dua sertifikasi keberlanjutan utama—ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Keputusan akhir mengenai sertifikasi yang diakui dalam IEU-CEPA masih dalam tahap negosiasi. Selain itu, CPO Indonesia direncanakan bebas bea masuk ke Uni Eropa paling lambat pada 2027. Namun, mulai tahun depan, Uni Eropa akan menerapkan Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR), yang mewajibkan semua produk bebas dari unsur deforestasi.
Tantangan Ekspor Batu Bara: Pergeseran Permintaan dan Persaingan Global
Sementara itu, di sektor energi fosil, ekspor batu bara Indonesia menghadapi tekanan besar akibat pergeseran strategi energi di Asia. Pada 2025, peran Indonesia sebagai pemasok utama kargo batu bara jenis Supramax dan Panamax mulai tergerus, terutama karena Tiongkok dan India—dua pasar utama—secara aktif meningkatkan produksi dalam negeri dan investasi energi terbarukan.
Dalam Jakarta Coal Workshop yang diselenggarakan oleh Signal Ocean dan Carbon Research Pte Ltd. pada bulan Juli, analis senior Rodrigo Echeverri memaparkan tantangan yang dihadapi eksportir batu bara Indonesia. Ia menyoroti penurunan aktivitas industri di Asia, peningkatan kebijakan proteksionis seperti tarif warisan era Trump, dan peran strategis Asia Tenggara dalam permintaan batu bara kawasan.
Salah satu temuan utama adalah terjadinya perubahan pola ekspor Indonesia yang menyimpang dari tren historis. Batu bara dengan nilai kalor tinggi dari Australia, Kolombia, dan Afrika Selatan mulai menguasai pasar tertentu, sementara batu bara Indonesia menjadi lebih rentan terhadap perubahan kebijakan jangka pendek dan fluktuasi makroekonomi.
Aspek logistik juga dibahas, termasuk peningkatan jumlah hari-ton (ton days), kemacetan di pelabuhan Indonesia, serta dampak gangguan di Laut Merah terhadap rute pengiriman utama seperti Tanjung Harapan dan Terusan Suez.
India dan Tiongkok: Dua Raksasa dengan Arah Berbeda
Dalam lanskap makroekonomi, India muncul sebagai pendorong utama permintaan energi kawasan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil, investasi infrastruktur yang masif, dan sektor manufaktur yang kuat menopang kebutuhan energi negara tersebut. Indeks Manufaktur India (PMI) melonjak ke level tertinggi dalam 17 tahun, mencapai 59,2 pada Juli 2025, sementara output manufaktur tumbuh 3,9% secara tahunan di bulan Juni.
Namun, pertumbuhan ini diimbangi oleh penurunan di sektor pertambangan dan listrik, yang menekan kinerja industri secara keseluruhan.
Sebaliknya, Tiongkok menghadapi perlambatan ekonomi yang signifikan. PMI manufaktur resmi turun ke 49,3 pada Juli—bulan keempat berturut-turut di bawah batas ekspansi. Pertumbuhan PDB kuartal kedua juga melambat ke 5,2%, jauh di bawah pencapaian dua digit pada dekade sebelumnya.
Tiongkok mulai mengalihkan fokus industri dari manufaktur berat tradisional menuju sektor teknologi tinggi, seperti peralatan listrik dan elektronik, yang lebih hemat batu bara. Dengan peningkatan produksi domestik dan peningkatan penggunaan energi terbarukan serta nuklir, permintaan impor batu bara termal dari Tiongkok menurun tajam.
Kesimpulan: Arah Baru dalam Perdagangan Komoditas
Dua sektor ekspor utama Indonesia—minyak sawit dan batu bara—menghadapi tantangan dan peluang yang berbeda. Di satu sisi, pengakuan Uni Eropa terhadap keberlanjutan CPO membuka jalan bagi ekspansi pasar yang lebih luas. Di sisi lain, tren energi global dan tekanan makroekonomi memaksa pelaku industri batu bara untuk menyesuaikan strategi.
Ke depan, Indonesia perlu menyeimbangkan upaya diplomasi perdagangan dengan adaptasi kebijakan energi untuk menjaga daya saing di pasar global yang terus berubah.